Abhidhamma Piṭaka

Anggota dari serial
Agama Buddha

Lotus75.png

Sejarah
Garis waktu
Dewan-dewan Buddhis

Konsep petuah agama Buddha
Empat Kesunyataan Agung
Delapan Jalan Utama
Pancasila · Tuhan
Nirvana · Tri Ratna

Petuah inti
Tiga Corak Umum
Samsara · Kelahiran lagi · Sunyata
Paticcasamuppada · Karma

Tokoh penting
Siddharta Gautama
Murid utama · Keluarga

Tingkat-tingkat Pencerahan
Buddha · Bodhisattva
Empat Tingkat Pencerahan
Meditasi

Wilayah agama Buddha
Asia Tenggara · Asia Timur
Tibet · India dan Asia Tengah
Indonesia · Barat

Sekte-sekte agama Buddha
Theravada · Mahayana
Vajrayana · Sekte Awal

Kitab Suci
Sutta · Vinaya · Abdhidahamma

Dharma wheel 1.png

Abhidhamma Piṭaka adalah kitab yang berisikan tentang uraian mengenai filsafat, metafisika dan ilmu jiwa Buddha Dhamma, yang terdiri dari 42.000 Dhammakhandha (pokok Dhamma), yang terbagi menjadi:

  1. Dhamma sangaṇī
  2. Vibhanga
  3. Dhātukathā
  4. Puggala paññatti
  5. Kathāvatthu
  6. Yamaka
  7. Paṭṭhana

Kitab suci Abhidhamma Piṭaka

Menurut catatan sejarah, Abhidhamma Pitaka adalah suatu kitab yang baru resmi tertuliskan pada Muktamar (sanghayana) keempat yang diselenggarakan di Aluvihara, Sri Lanka pada tahun 83 Sebelum Masehi. Pada mulanya, kitab ini dituliskan pada lembaran-lembaran daun lontar. Sedangkan bahasa yang digunakan adalah bahasa Pali (Magadha). Namun beberapa tahun kemudian telah terdapat pula Abhidhamma Piṭaka yang ditulis dalam bahasa Sinhala, Devanagari, Myanmar, Thai, Inggris dan lain-lain.

Pengertian Abhidhamma

Abhidhamma berasal dari istilah Pali yang secara etimologinya terdiri dari dua istilah yaitu Abhi yang berarti tinggi, luhur, luhur, lebar, dan Dhamma yang berarti kebenaran atau petuah kebenaran dari Sang Buddha. Sah Abhidhamma berarti petuah yang luhur, luhur, atau tinggi dari Sang Buddha. Dalam kitab komentar Atthasalini, Buddhaghosa Thera menjelaskan bahwa istilah sifat Abhi secara harafiah berarti melebihi, melampaui, dan mengungguli. Dhamma dalam Sutta Piṭaka adalah petuah biasa (Vohara desana) dan banyak menggunakan istilah-istilah konvensional, seperti manusia, binatang, benda-benda dan sebagainya. Sedangkan Abhidhamma adalah petuah tertinggi (paramatha desana), maka segala sesuatunya dianalisis secara teliti dan digunakan istilah-istilah yang analitis seperti gugusan kehidupan (khandha), unsur (dhatu), landasan (ayatana) bahkan jalan pembebasan dinyatakan dengan istilah yang terang, jelas, dan tepat.

Sebagai petuah tertinggi Abhidhamma memungkinkan seseorang untuk mencapai pembebasan mutlak dari semua nyata penderitaan, karena Abhidhamma berjasa untuk mengembangkan orientasi terang (Vipassana bhavana). Tetapi tidak pula dibicarakan bahwa Abhidhamma mutlak atau sangat perlu untuk mencapai kebebasan, pengertian dan pencapaian kebebasan semata-mata tergantung pada diri sendiri. Dibicarakan bahwa Empat Kesunyataan Agung yang merupakan landasan petuah Sang Buddha terdapat dalam diri masing-masing manusia. Dhamma tidak terlepas dari diri manusia sendiri; manusia perlu mencari ke dalam diri mereka sendiri dan kebenaran akan tampak.

Dari Sutta dinyatakan bahwa terdapat orang-orang yang mencapai pencerahan tanpa mengenal Abhidhamma terlebih dahulu, seperti:

  • lima orang Bhikkhu yang kemudian dikenal sebagai Pancavagiya (Kondaña, Vappa, Bhaddiya Mahanama dan Assaji) mampu mencapai kesucian sehabis mendengar khotbah Sang Buddha, yaitu pemutaran Roda Dhamma (Dhammacakkappavattana Sutta).
  • Upatisa yang kemudian dikenal sebagai Y.A. Sariputta mencapai Sotappana hanya mendengar setengah bait "Hubungan Kausal" yang diajarkan oleh Y.A. Assaji, padahal waktu itu Ia belum berusaha dapat Abhidhamma.
  • Patacara, seorang ibu yang sedang berduka karena kehilangan orang yang paling dekat dan paling disayang olehnya mampu mencapai pembebasan melintas perenungan pada cairan yang membasahi kakinya atas nasihat Sang Buddha.
  • Culapantaka, seorang yang tidak mampu menghapal sebait syair dalam waktu kurang bertambah satu vassa, mencapai kearahatan dengan mengamati ronde "Ketidak kekalan" yaitu dengan metode memandang sehelai sapu tangan yang bersih di bawah terik matahari.

Pembabaran Abhidhamma

Dibicarakan bahwa Abhidhamma sesungguhnya abadi abadi; ia tidak kekurangan dalam dunia semesta yang sangat lebar ini, hanya suatu ketika Abhidhamma itu dilalaikan oleh para Brahma, dewa dan manusia, pada saat itulah muncul Sammasambuddha yang akan mengajarkan Abhidhamma kepada mahluk-mahluk. Mahluk-mahluk seperti Savaka Buddha, Arahat, dan ariya Puggala tidak mampu mengajarkan Abhidhamma bila tidak berusaha dapat atau mendengar petuah Abhidhamma.

Para Attakathacariya pernah menjelaskan dalam Paticcasamuppadavibhagathakatha sebagai berikut:

AYAM ABHIDHAMO NAMA NA ADHUNO KATONAPI BAHIRAKA ISIHIVA DEWATAHI VA BHASITO SABBANNUJINABHASITO PANA AYAM.
Artinya: Abhidhamma bukan hanya muncul dalam zaman sekarang ini saja, para resi (pertapa atau orang suci) atau dewa tidak mampu mengajarkan Abhidhamma (jika tidak belajar). Hanya Sammasambhuda saja yang dapat mengajarkannya.

Dalam kitab Komentar atas Dhammapada, Khudaka Nikaya, kitab Komentar Udana, dan Komentar Itivuttaka dapat dijumpai data historis kisah berhubungan dengan Abhidhamma sebagai berikut:

  • pada minggu keempat sehabis pencapaian penerangan sempurna Sang Buddha berdiam di kamar batu permata yang diciptakannya dan bermeditasi mengenai Abhidhamma.
  • Tahun ketujuh sehabis pencapaian penerangan sempurna selama satu vassa Sang Buddha mengunjungi surga Tavatimsa dan memberikan yang diajarkan Abhidhamma kepada dewi Maya dan pada dewa secara terperinci (Vittharanaya).
  • Pada kesempatan yang sama (Vassa) Ia mengajarkan kepada Y.A. Sariputta di hutan kayu cendana secara singkat (Sankhepanaya).
  • Y.A. Sariputta mengajarkan Abhidhamma kepada muridnya secara setengah ringkas dan setengah rinci (athivitharananatisankhepanaya) atas wewenang dari Sang Buddha untuk mengajarkan Abhidhamma kepada siswa-siswanya. Terakhirnya Abhidhamma menjadi topik yang menarik di selang murid Sang Buddha, termasuk Ananda Thera.
  • Pada Sangha Samaya Ketiga di Pataliputta diulanglah Abhidhamma Pitaka oleh Y.A. Kassapa Thera. Dan selanjutnya pada Sangha samaya keempat di Aluvihara secara resmi ditulis dalam sebuah kitab Tipitaka.


Tujuh Kitab Abhidhamma Piṭaka

  1. kitab Dhammasangani yang secara harafiah berarti penggolongan Dhamma yang terbagi dalam empat bab ,berisikan penguraiaan paramattha dhamma yaitu etika /sari batin.
  2. kitab Vibhanga menguraikan tentang pemilahan paramatha Dhamma yang terdapat dalam Dhammasangani dan terdiri dari delapan belas bab.
  3. kitab Dhatukatha menguraikan tentang pemaparan unsur-unsur yang terdiri dari empat belas bab.
  4. kitab Puggalapañatti menguraikan tentang pernyataan berbagai macam orang yang terdiri dari 10 bab.
  5. kitab Kathavathu menguraikan tentang pokok-pokok pertentangan dalam nyata tanya jawab yang terdiri dari dua puluh tiga bab.
  6. Yamaka menguraikan pemaparan paramatha dhamma secara sepasang yang terdiri dari sepuluh bab.
  7. Pathana menguraikan tentang duapuluh empat ketergantungan ( paccaya ).

Kitab Abhidhammatthasangaha

Pengertian Abhidhammathasangaha

Abhidhammathasangaha berasal dari bahasa pali yang terdiri atas lima istilah, yaitu abhi : yang berarti halus/tinggi, Dhamma yang berarti kebenaran atau yang diajarkan dari Sang buddha, attha yang berarti intisari, san yang berarti singkatan, dan gaha yang berarti gabungan, sah Abhidhammathasangaha berarti singkatan dari gabungan intisari Abhidhamma Pitaka. Abhidhammathasangaha berisikan yang diajarkan mengenai citta ( kesadaran ), cetasika ( bentuk-bentuk batin ), rupa ( materi ), dan nibbana ( nirvana ). Buku Abhidhammathasangaha ditulis oleh Ven Anurudhacariya Maha Thera pada tahun 357 S. M atau 900 BE. Abhidhammathasangaha sangat penting untuk dipelajari, karena merupakan pokok dasar Abhidhamma. Umat buddha yang ingin mempelajari Abhidhamma Pitaka untuk mendapat pengertian yang baik harus mempelajari Abhidhammathasangaha terlebih dahulu.

Pernyataan Citta, Cetasika, Rûpa dan Nibbana

Citta

Citta berasal dari istilah Citti yang berarti berpikir. Menurut Abhidhamma, citta berarti kesadaran akan suatu obyek atau sesuatu yang ingat terhadap obyek. Sinonimnya adalah ceta, citupada, nama, mana dan Viññana. Bila suatu makhluk dibagi menjadi dua, yaitu nama ( batin ) yang digunakan. Tetapi jika dibagi menjadi lima gugusan kehidupan ( pancakkhandha ) digunakan istilah Viññana atau kesadaran. Istilah Citta digunakan dalam hubungannya dengan berbagai tingkat kesadaran. Pada dasarnya tidak tidak kekurangan perbedaaan selang batin dengan kesadaran. Tidak kekurangan pernyataan dalam bahasa pali sebagai berikut : “ Aramanam cintetiti cittan “ yang artiannya “ Keadaan yang mengetahui obyek, yaitu menerima obyek selalu “ keadaan itu disebut kesadaran atau pikiran. Citta atau kesadaran itu akan muncul dalam diri kita bilamana tidak kekurangan indera kita yang mencerap obyek dari luar. Menurut sifat atau keadaan, bahwa kesadaran atau pikiran itu adalah “ keadaan yang mengetahui obyek “ saja, maka kesadaran itu hanya satu. Tetapi bila ditinjau menurut keadaan yang diketahui dan anggota yang diketahui maka Citta itu tidak kekurangan banyak. Yaitu mengetahui dalam hal keinginan yang baik atau yang tidak baik, mengetahui dalam hal Rupa jhana ( jhana berpotongan ), mengetahui dalam hal arupajjhana (jhana tak berbentuk), atau mengetahui dalam hal Nibbana. Sah bila kesadaran / pikiran itu dihitung secara terperinci maka tidak kekurangan 89121 macam / tipe kesadaran. Dalam jumlah tersebut di atas citta atau kesadaran dapat dikelompokkan menjadi empat bagian :

  1. Kamavacara citta : terdiri dari 54 tipe kesadaran, yaitu kesadaran atau pikiran yang bergetar atau berkelana di Kamma Bhumi / kammaloka sebelas ( 11 dunia kamma ), atau sering dikenal dengan tipe kesadaran yang berhubungan dengan dunia indria. Tipe kesadaran / pikiran ini terbagi menjadi tiga anggota yang meliputi :
    • Akusala Citta, yang terdiri atas dua belas tipe kesadaran / pikiran tidak baik atau amoral karena timbul dari lobha ( keserakahan ), dosa ( kebencian ), dan moha ( kebodohan batin ).
    • Ahetuka Citta, yang terdiri atas 18 tipe kesadaran / pikiran yang tidak bersekutu dengan sebab atau hetu karena kesadaran atau pikiran ini merupakan hasil atau yang belakang sekali suatu peristiwa dari perbuatan-perbuatan masa lampau.
    • Kammavacara sobhana citta, yang terdiri atas 24 tipe kesadaran atau pikiran baik, yang berkelana di dunia kama bhumi.
  2. Rūpavacara citta, terdiri dari 15 tipe kesadaran, yaitu kesadaran yang mencapai obyek dari Rupajjhana atau kesadaran / pikiran yang berkelana di Rupa Bhumi ( dunia berpotongan ).
  3. Arūpavacara Citta, terdiri dari 12 tipe kesadaran atau pikiran yang mencapai obyek dari Arupajjhana ( Kesadaran pikiran yang berhubungan dengan dunia Arupa ).
  4. Lokuttara Citta, terdiri dari 8 – 40 tipe kesadaran / pikiran, yaitu kesadaran / pikiran diluar tiga dunia ( kesadaran / pikiran di atas duniawi ).
Cetasika

Cetasika atau bentuk-bentuk batin adalah keadaan yang bersekutu dengan citta. Gejala yang bersekutu dengan citta disebut “ Cetoyuttalakkhana “ yaitu keadaan yang bersekutu dengan citta disertai sifat 4 macam yaitu :

  1. Ekuppada, yang berarti timbulnya bersama dengan citta.
  2. Ekaniroda, yang berarti padamnya bersama dengan citta.
  3. Akalambana, yang berarti mempunyai obyek yang sama dengan citta.
  4. Ekavatthuka, yang berarti pemakaian obyek sama dengan citta. Karena setiap macam cetasika mempunyai sifat yang tidak sama, maka terdapat 52 macam cetasika, yang terbagi atas tiga anggota, yaitu :
    • Aññasamana cetasika, berarti bentuk-bentuk batin yang sama keadaannya yang dapat bersekutu dengan semua tipe kesadaran / pikiran yang baik danjahat, yang terdiri atas 13 macam.
    • Akusala cetasika, berarti bentuk-bentuk batin yang jahat. Cetasika ini merupakan bentuk-bentuk batin yang membentuk semua kejadian yang tidak baik dari kesadaran / pikiran, yang semuanya berjumlah 14 macam.
    • Sobhana cetasika, berarti bentuk-bentuk batin yang baik, disebut demikian karena cetasika ini umumnya dibagi keseluruhan menjadi moral yang baik dari kesadaran / pikiran. Cetasika ini muncul dalam kombinasi yang beraneka ragam dalam pernyataan kesadaran yang baik dan jumlahnya terdiri dari 25 macam.
Rûpa

Rûpa adalah suatu keadaan yang dapat bercerai-berai atau berubah padam dengan kedinginan dan kepanasan. Rupa sering diterjemahkan dengan materi, bentuk-bentuk, tubuh dan sebagainya. Rupa / jasmani setiap makhluk itu pada hakekatnya akan timbul karena keadaan 4 macam kebutuhan ( 4 paccaya ), yang meliputi :

  1. Kamma atau karma yaitu perbuatan atau kehendak yang baik maupun yang tidak baik. Jika perbuatan baik yang bertambah banyak dilangsungkan, maka jasmani yang dapat dibentuk tentu akan normal tidak tidak kekurangan cacatnya, juga akan cantik dan tampan, serta selalu sehat. Tetapi jika perbuatan tidak baik yang bertambah banyak dilangsungkan maka jasmani yang dapat dibentuk umumnya tidak normal.
  2. Citta / pikiran. Jika pikiran kita selalu tenang, damai maka akan tercetus dalam wajah yang ceria, murah senyum, maka wajah kita akan cerah. Namun jika pikiran kita selalu kacau maka yang tampak terutama wajah kita akan cemberut atau marah, maka wajah kita akan kelihatan tidak cantik atau tampan dan mudah cepat tua.
  3. Utu atau temperatur suhu. Jika kita tinggal di daerah tropis, maka kulit kita umumnya akan hitam / gelap. Tetapi jika kita tidak kekurangan di daerah dingin maka umumnya kulit kita akan berwarna putih atau kuning langsat.
  4. Ahara atau makanan. Jika kita selalu makan makanan yang penuh gizi, maka jasmani kita akan tumbuh dengan baik dan sehat. Tetapi jika kita selalu makan makanan yang kurang bergizi, maka jasmani yang dapat dibentuk juga kurang baik dan kurang sehat. Menurut Abhidhamma, rupa atau jasmani dapat dikupas secara singkat menjadi 28 unsur yang terbagi menjadi dua gugusan, yaitu :
    • Mahabhûtarupa, yang terdiri dari empat unsur dan merupakan materi dasar yang luhur.
    • Upadayarûpa, yang terbagi atas 24 macam, yang berarti materi yang berasal dari Mahabhutarupa.
Nibbana

Istilah Nibbana berasal dari istilah “Ni” dan “Vana”, Ni berarti tidak, vana berarti menenun atau menginginkan, yang berfungsi sebagai tali untuk menghubungkan rangkaian kehidupan dari makhluk hidup dalam pengembaraannya ( samsara ). Selama seseorang terjerat keinginan atau kemelakatan, ia akan menumpuk kemampuan kamma yang segar / baru yang harus diwujudkan dalam satu nyata di dalam lingkaran kelahiran dan kematian yang tiada putusnya. Bila semua keinginan telah termusnahkan, kemampuan kamma akan berjeda bertugas, dan seseorang dibicarakan mencapai Nibbana, terlepas dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tiada putusnya. Istilah Nibbana juga dari istilah ni dan va yang berarti meniup. Dalam hal ini nibbana berarti tertiup padamnya atau musnahnya api nafsu kebencian, dan ketidaktahuan. Secara instrinsik ( sabhavato ) nibbana adalah kedamaian ( santi ) dan unik ( kevala ). Nibbana merupakan suatu kenyataan mutlak ( vattudhamma ) yang di atas duniawi ( lokuttara ). Nibbana merupakan Arupadhamma, yaitu dhamma yang bukan rupa, dan disebut pula nama dhamma, disebut pula kala vimuti karena terbebas dari kala tiga ( atita, paccupana, dan anagata ), dan merupakan asankhatadhamma ( keadaan yang tidak bersyarat ). Selain itu Nibbana diartikan sebagai suatu keadaan yang terbebas dari tanha. Nibbana yang menjadi tujuan terakhir dari umat Buddha secara garis luhur dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

  1. Saupadisesa Nibbana : padamnya kilesa secara total, tetapi masih tidak kekurangan pancakkhandha.
  2. Anupadisesa Nibbana : padamnya kilesa secara total dan juga padamnya pancakkhandha.

Rujukan

  1. Arti Abhidhamma dalam Kahidupan Sehari-hari, Oleh Mettadewi W. SH, SAB.
  2. Pengantar Abhidhamma Pitaka. Editor : J. Kaharudin, Abhidhamma Pandit, dan Dharma K. Vidya .
  3. Ikhtisar Tipitaka. Editor : Bidhiarta, dan Dharma K. Vidya.
  4. Abhidhammatthasangaha, oleh Pandit J. Kaharudin.
  5. Sebuah Telaah obyektif Abhidhamma, oleh Jan Sanjivaputta
  6. Diktat Abhidhamma, oleh Ven Narada Maha Thera, alih bahasa Samanera Aggabalo.
BuddhismSymbol.png   Garis Luhur - Buddhisme   Flag of Buddhism.svg
 
Garis waktu · Portal · Kategori · Glossarium · Indeks
 
Dasar
 
Petuah Inti
 
Tokoh Penting
Buddha Gautama  • Murid Utama (Sariputta  • Mahamoggallana)  • Keluarga
 
Tingkat Pencerahan
 
Wilayah
 
Sekte
Theravada  • Mahayana (Zen)  • Vajrayana  • Bön  • Sekte Awal (Buddhisme)
 
Sutra
 
Sejarah
 
Daftar
Buddha  • Duapuluh delapan Buddha  • Bodhisattva  • Sutta  • Kuil


Sumber :
kategori-antropologi.kurikulum.org, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, sepakbola.biz, dsb.