Polikarpus

Polikarpus, uskup tua dari Smyrna yang setia hingga kesudahan hayatnya di tiang bakar.

Polikarpus dari Smirna (mati syahid pada lebih kurang usia 87 tahun, lebih kurang 155–167 Masehi) adalah uskup Gereja di Smirna (sekarang di daerah Izmir di Turki) pada masa zaman ke-2. Ia ditikam dan mati sebagai syahid setelah usaha untuk membakarnya hidup-hidup pada tiang pancang gagal. Polikarpus dikenal sebagai seorang santo oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur.

Menurut kisah, Polikarpus adalah siswa langsung dari Yohanes. Yohanes yang dimaksud dapat merujuk pada Yohanes anak Zebedeus yang menurut tradisi merupakan penulis Injil Yohanes, atau Yohanes Sang Presbiter[1]. Eusebius berkeras bahwa koneksi apostolik dari Papius adalah dengan Yohanes Sang Penginjil yang merupakan penulis Injil keempat. Jika demikian, mungkin ialah orang terbelakang yang mengadakan komunikasi dengan gereja para rasul. Polikarpus tidak mengutip Injil Yohanes dalam suratnya yang masih dapat ditemukan. Hal itu dapat dijadikan indikasi bahwa Yohanes yang dikenalnya bukanlah penulis Injil keempat, atau dapat aci juga merupakan suatu indikasi bahwa Injil Yohanes belum disilakan duduk selagi Polikarpus berguru kepada Yohanes.

Lebih kurang 40 tahun sebelumnya, ketika Polikarpus memulai pelayanannya sebagai uskup, seorang bapa gereja, Ignatius, telah menulis surat khusus untuknya. Polikarpus sendiri telah menulis suratnya untuk orang-orang Filipi. Meskipun surat tersebut tidak begitu cemerlang ataupun merupakan argumennya sendiri, namun mengandung unsur-unsur kebenaran yang ia pelajari dari para pendidiknya. Polikarpus tidak mengomentari Akad Lama, seperti orang-orang Kristen yang muncul kesudahan, tetapi ia menyitir para rasul dan pemuka gereja lainnya untuk meyakinkan orang-orang Filipi.

Lebih kurang satu tahun sebelum kemartirannya, Polikarpus berkunjung ke Roma untuk menamatkan perbedaan argumen tentang tanggal Hari Raya Paskah dengan uskup Roma. Tidak kekurangan kisah yang mengisahkan bahwa ia terlibat dalam perdebatan dengan Marcion, yang ia juluki "Anak sulung setan". Ajaran-ajaran para rasul yang ditampilkannya telah membuat beberapa pengikut Marcion bertobat.

Polikarpus dan Papias

Polikarpus adalah sahabat dari Papias (Irenaeus V.xxxii) yang termasuk "Pendengar Yohanes" lainnya, seperti interpretasi Ireneus dari kesaksian Papias dan sebuah surat Ignatius dari Antiokhia. Ignatius mengirimkan surat kepadanya dan menyebutkan namanya pada surat kepada jemaat Efesus dan Magnesia. Siswa Polikarpus yang paling dikenal adalah Ireneus, yang menulis sejumlah kenangan mengenai Polikarpus dan dijadikan mata rantai yang menghubungkannya dengan rasul-rasul terdahulu.

Ireneus membicarakan bagimana dan kapan ia dijadikan seorang Kristen. Ia membicarakan pada bagian awal suratnya kepada Florinus bahwa ia bertemu dan mendengarkan Polikarpus dengan cara pribadi di Asia Kecil. Pada keterangan-keterangan kesudahan, ia mencatat hubungan Polikarpus dengan Yohanes Sang Penginjil dan dengan orang-orang lain yang telah bertemu Yesus. Ireneus juga melaporkan bahwa Polikarpus dikristenkan oleh para rasul sendiri, ditahbiskan dijadikan seorang uskup, dan mengadakan komunikasi dengan banyak orang yang telah bertemu dengan Yesus.

Menjelang mati syahidnya Polikarpus, ia memberitahukan sendiri usia ketika ia mati dengan mengucapkan perkataan, "Delapan puluh enam tahun diri sendiri telah melayani Dia", yang kesudahan dimengerti bahwa ia telah berusia 86 tahun pada kala itu dan telah dibaptiskan ketika masih bayi. [1].

Kunjungan ke Anisetus, Uskup Roma

Polikarpus mengunjungi Roma kala sahabatnya Syria-nya yang bernama Anisetus dijadikan uskup Gereja Roma pada lebih kurang tahun 150 atau 160-an Masehi. Mereka berdua merayakan perayaan Paskah Kristen dengan cara berbeda. Polikarpus mengikuti praktik Timur dalam merayakan Paskah, adalah pada tanggal 14 bulan Nisan, yang bertepatan dengan Paskah Yahudi, tidak memperhatikan pada hari apa Paskah itu jatuh.

Tulisan-tulisan dan catatan-catatan awalnya

Seluruh karyanya yang tersisa adalah suratnya kepada jemaat Filipi, yang merupakan kepingan keterangan kepada Akad Baru. Surat itu dan sebuah catatan Polikarpus mengenai mati syahidnya (Martyrdom of Polycarp) ditemukan sebagai surat berantai dari Gereja Smirna kepada Gereja-gereja Pontus. Surat-surat tersebut mewujudkan kumpulan tulisan-tulisan dari “Bapa Gereja Apostolik” (suatu istilah untuk menegaskan kedekatan mereka dengan para Rasul dalam tradisi Gereja).

Mati syahid diyakini sebagai daftar catatan asli para syahid Kristen yang ditulis paling awal, dan juga merupakan salah satu dari sedikit catatan asli dari tahun-tahun penganiayaan Kristen.

Kesudahan hidupnya

Kisah kesudahan hidup Polikarpus dicatat dalam surat dari jemaat di Smirna yang dinamai "The Martyrom of Polycarp" ("Kematian syahid Polikarpus").

Sebab orang-orang Kristen mengusir menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, tetapi memuja Kristus dengan cara sembunyi-sembunyi di rumah masing-masing, mereka dianggap orang kafir. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan pekikan, "Enyahkan orang-orang kafir."

Polikarpus, uskup yang disegani di kota itu, diburu oleh prajurit Smyrna. Para prajurit itu sudah mengirim orang-orang Kristen lainnya untuk dibunuh di arena, kini mereka menghendaki sang pemimpin. Polikarpus telah membelakangi kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain. Meskipun orang bawahan Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih berdiam di kota, teman-temannya mendorongnya bersembunyi. Mungkin sebab mereka takut seandainya kematiannya akan memengaruhi ketegaran gereja.

Ketika polisi mendatangi ladang pertama, mereka menyiksa seorang budak untuk mencari tahu tentang Polikarpus. Kesudahan mereka menyerbu dengan senjata lengkap untuk menangkap uskup itu. Meskipun tidak kekurangan kesempatan lari, Polikarpus memilih tinggal di tempat, dengan tekad, "Kehendak Allah pasti terjadi." Di luar dugaan, ia menerima mereka seperti tamu, memberi mereka makan dan meminta izin selagi satu jam untuk berdoa. Ia berdoa dua jam lamanya.

Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang hegitu baik. Dalam perjalanannya lagi ke Smyrna, kepala prajurit yang memimpin pasukan itu cakap, "Apa salahnya menyebut Tuhan Kaisar dan mempersembahkan bakaran kemenyan?"

Dengan tenang Polikarpus membicarakan bahwa ia tidak akan melakukannya.

Gubernur Romawi yang mengadilinya berusaha mencarikan jalan keluar untuk membebaskan uskup tua itu. "Hormatilah usiamu, Pak Tua," seru gubernur Romawi itu. "Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, "Enyahkan orang-orang kafir!" "

Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri dengan pergi dari dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap "kafir" itu. Namun, Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemohkannya. Sambil mengisyaratkan ke arah mereka, ia berseru, "Enyahkan orang-orang kafir!"

Gubernur Romawi itu berusaha lagi: "Angkatlah sumpah dan aku akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!"

Polikarpus pun berdiri dengan tegar. Ia membicarakan perkataan terbelakangnya yang terkenal, "Selagi 86 tahun diri sendiri telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana diri sendiri dapat mencaci Raja [Kristus] yang telah menyelamatkanku?"

Pertukaran argumen antara sang uskup dan gubernur Romawi berlanjut. Pada suatu kala, Polikarpus menghardik lawan bicaranya: "Jika kamu.... berpura-pura tidak mengenal aku, dengarlah baik-baik: Aku adalah seorang Kristen. Jika Anda ingin mengetahui nasihat Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk mendengarkan aku."

Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan beliau ke binatang-binatang buas. "Panggil binatang-binatang itu!" seru Polikarpus. "Jika hal itu akan mengubah kondisi buruk dijadikan baik, tetapi bukan kondisi yang bertambah baik dijadikan bertambah buruk."

Ketika ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, "Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kesudahan akan padam, namun api penghakiman yang akan datang adalah tidak dihabisi."

Yang belakang sekalinya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik lagi pernyataan-pernyataannya. Penduduk Smyrna pun berteriak: "Inilah pendidik dari Asia, bapa orang-orang Kristen, pembasmi dewa-dewa kita, yang melatih orang-orang untuk tidak menyembah (dewa-dewa) dan mempersembahkan korban sembelihan."

Gubernur Romawi menitahkan supaya ia dibakar hidup-hidup. la dieratkan pada sebuah tiang dan dibakar. Namun, menurut seorang saksi mata, badannya tidak termakan api. "la tidak kekurangan di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, tetapi seperti roti di tempat pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kita mencium aroma yang harus, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal." Ketika seorang algojo menikamnya, darah yang mengalir memadamkan api itu.

Kisah ini tersebar ke jemaat-jemaat di seluruh kekaisaran. Gereja menyimpan laporan-laporan semacam itu dan mulai memperingati hari-hari kelahiran serta kematian para martir. Bahkan mereka juga mengumpulkan tulang-tulangnya serta peninggalan lainnya.

Tanggal kematian Polikarpus diperbantahkan. Eusebius mencatat kematiannya pada masa pemerintahan Marcus Aurelius, 166–167 Masehi. Namun, sebuah catatan yang ditambahkan setelah masa Eusebius menyuratkan kematian Polikarpus pada Sabtu, 23 Februari pada masa pemerintahan konsul Statius Quadratus yang berkuasa pada 155 atau 156 Masehi. Tanggal yang ditulis sebelumnya bertambah cocok kepada tradisi yang memberitahukan hubungan Polikarpus dengan Ignatius dan Yohanes Sang Penginjil. Setiap tanggal 23 Februari, diperingati hari "kelahiran Polikarpus" datang ke surga.

Sabat Luhur

Sebab surat jemaat Smirna yang dikenal sebagai mati syahidnya Polikarpus membicarakan bahwa Polikarpus dibunuh pada Sabat Agung, beberapa pihak berpendapat bahwa tulisan tersebut adalah bukti bahwa Gereja Smirna yang diberi segala sesuatu yang diajarkan oleh Polikarpus menjalankan ibadah Sabat pada hari ketujuh (Sabtu).

Pihak lainnya membicarakan bahwa Sabat Luhur yang dimaksudkan merujuk kepada Paskah Kristen atau hari-hari agung lainnya. Jika hal tersebut berlaku, maka kematian Polikarpus terjadi antara satu dan dua bulan setelah tanggal 14 bulan Nisan (tanggal kala Polikarpus merayakan Paskah) yang tidak mungkin terjadi sebelum kesudahan bulan Maret. Sabat Luhur lainnya (jika ingin merujuk kepada hari-hari agung Yahudi) dirayakan pada musim semi, kesudahan musim panas, atau musim gugur. Tidak tidak kekurangan perayaan pada musim dingin.

Peranannya

Polikarpus memegang peranan penting dalam sejarah Gereja Kristen. Beliau termasuk di antara orang-orang Kristen perdana yang tulisan-tulisannya masih tersisa. Beliau adalah uskup dari sebuah Gereja penting di tempat di mana para rasul bertugas. Dan beliau hidup pada masa di mana ortodoksi (nilai-nilai tradisi, nasihat, dan budaya turun-temurun) diterima dengan cara lebar oleh Gereja-Gereja Ortodoks, Gereja-Gereja Timur, kelompok-kelompok yang masih menjalankan Sabat pada hari ketujuh, dan kelompok-kelompok yang mirip dengan Protestan dan Katolik.

Polikarpus bukanlah seorang filsuf atau teolog. Dari catatan-catatan yang tersisa, ia muncul sebagai pemimpin ibadah dan pendidik yang berbakat. “Seorang dengan kelas yang bertambah tinggi, dan saksi kebenaran yang tabah daripada Valentinus, dan Marsion, dan bidat-bidat yang lain”, ucap Ireneus yang memikirkannya sejak masa mudanya. (Adversus Haereses III.3.4).

Ia hidup pada masa setelah meninggal para rasul, ketika bermacam-macam interpretasi nasihat Yesus diajarkan. Peranannya adalah dengan menegaskan nasihat asli yang didapatkannya dari Rasul Yohanes. Catatan yang tersisa menunjukkan keberanian di wajah Polikarpus tua kala menghadapi kematian dengan dibakar pada tiang pancang menunjukkan betapa dapat dipercayanya perkataan-perkataan Polikarpus.

Kematian syahid Polikarpus sangat penting untuk memahami jabatan Gereja ketika Kekaisaran Romawi masih beragama kafir. Ketika penganiayaan masih didukung oleh jenderal-jenderal konsul lokal, berbagai penulis mencatat betapa haus darahnya orang-orang yang meneriakkan kematian bagi Polikarpus (bab 3). Catatan-catatan tersebut juga menunjukkan kebencian tak mendasar pemerintah Romawi terhadap kekristenan, ketika orang-orang Kristen diberikan kesempatan untuk tidak dihukum jika mau menyalahi imannya dan mengaku bahwa dijadikan seorang Kristen berarti telah melakukan tingkah laku yang dibuat kriminal. Sistem pengadilan yang jarang ada ini di kesudahan hari dicemooh oleh Tertullianus (orang yang pertama kali memperkenalkan nasihat Trinitas) dalam buku Pembelaan (Apologi)-nya.

Polikarpus adalah seorang penyebar dan pemurni wahyu Kristen yang hebat pada masa Injil dan surat-surat mulai diterima dengan cara lebar. Meskipun kunjungannya ke Roma untuk bertemu uskup Roma dipakai pihak Gereja Katolik Roma untuk memperkuat klaim keutamaan Roma (sistem kepausan), namun sumber-sumber Katolik membicarakan bahwa Polikarpus tidak menerima kuasa dari uskup Roma untuk mengganti hari Paskah (bahkan, Polikarpus dan Anicetus uskup Roma setuju untuk tidak setuju. Keduanya percaya bahwa praktik Paskah mereka sesuai dengan tradisi Rasuli) –- Penerus spiritual Polikarpus seperti Melito dari Sardis dan Polikrates dari Efesus sependapat dengan hal yang sama.

Tidak kekurangan empat sumber utama mengenai Polikarpus :

  1. Surat otentik Ignatius dari Antiokhia, yang salah satunya ditujukan kepada Polikarpus.
  2. Surat Polikarpus kepada Gereja Filipi
  3. Bagian-bagian dalam Adversus Haeresis karya Ireneus
  4. Dan surat dari jemaat Smirna yang membicarakan kematian syahid Polikarpus

Sumber referensi

  1. Catatan So Andrew Louth's dalam the Martyrdom "Early Christian Writings" terbitan Penguin Classics.
  2. Encyclopaedia Britannica, edisi 1958, vol. 18, hal 178-180
  3. Kirsopp Lake 1912. The Apostolic Fathers, vol. I, hal. 280-282
  4. Henry Wace, Dictionary of Christian Biography and Literature to the End of the Sixth Century A.D., with an Account of the Principal Sects and Heresies: "Polycarpus, bishop of Smirna"
  5. A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, 1999. Dapat dibaca di sini

Pranala luar

  1. Letter to the Phillipians from the Ante-Nicene Fathers
  2. Corrected Translation of Polycarp's Letter to the Philippians. Tulisan ini mengoreksi penghapusan ucap bahasa Latin yang dengan cara tak disengaja dihapus oleh Roberts dan Donaldson.
  3. Early Christian Writings: Polycarp; text and introductions
  4. N. Tobin, "The Apostolic Succession: Polycarp and Clement": A skeptical assessment finds inconsistencies in the tradition as reported in this article.
  5. Location of the Early Church: Another Look at Rome, Ephesus & Smirna This documented article explains some of the reasons why the history of the orthodox Church in the second century should be traced through John and Polycarp.
  6. account of his death in the letter of the Smyraeans.
  7. The Catholic Encyclopedia: "Polycarp"

Sumber referensi

  1. ^ (Lake 1912)


Sumber :
id.wikipedia.org, civitasbook.com (Ensiklopedia), kategori-antropologi.kpt.co.id, wiki.edunitas.com, dll-nya.